Cuaca Ekstrim Hati” untuk nelayan..

By H>>>T

SEMARANG–Menyikapi cuaca di perairan Jawa Tengah, baik Laut Jawa maupun Samudera Indonesia, yang cenderung memburuk, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah memberikan peringatan bagi aktivitas nelayan.

Pasalnya, memasuki awal bulan Januari tahun ini, kondisi cuaca di laut utara maupun laut selatan Jawa Tengah mulai tidak bersahabat bagi aktivitas nelayan. Terutama aktivitas pencarian ikan di laut lepas. “Bahkan BMKG sendiri menilai di perairan Jawa Tengah sedang berlangsung cuaca ekstrim, sejak awal bulan ini,” ungkap Kepala BMKG Jawa Tengah, M Khaeran di Semarang, Senin (4/1).

Menurutnya, meski secara umum kondisinya masih memasuki masa peralihan (pancaroba) dari musim kemarau ke musim hujan, namun pengaruh terhadap cuaca mulai menunjukkan tingkat yang membahayakan.

Meski pada siang hari cuaca panas, kondisinya akan cepat berubah. Terutama pada sore hari hingga malam hari atau saat para nelayan biasa melakukan aktivitas di perairan.

Hujan disertai angin kencang dan badai kilat bisa terjadi di hampir seluruh wilayah perairan di Jawa Tengah. Karena tingkat konvergensi atau penumpukan awan di perairan sangat tinggi.

Ditambah pengaruh angin barat daya yang mengakibatkan arus air laut menjadi labil. Berdasarkan pengamatan BMKG, hujan dan angin kencang di laut Jawa mengakibatkan tinggi gelombang di laut utara mencapai ketinggian dua meter.

Sedangkan gelombang di Samudera Indonesia (laut selatan) bisa mencapai ketinggian tiga hingga empat meter. “Sehingga bisa mengancam keselamatan aktivitas nelayan di perairan,” imbuhnya.

Selain di perairan, lanjut Khaeran, BMKG juga mulai memperingatkan aktivitas di wilayah darat, terutama di pedalaman Jawa Tengah. Kondisi cuaca ini juga bisa berdampak pada terjadinya tanah longsor dan angin ribut.

Pasalnya, hujan masih disertai angin kencang dan cenderung turun dalam waktu yang lama. “Hanya saja, tingkat kewaspadaan ini berada di wilayah tertentu yang selama ini potensial terhadap dampak cuaca tersebut,” lanjutnya.

Sementara itu, cuaca di perairan yang cenderung tak bersahabat ini juga dirasakan oleh nelayan Tambaklorok, Semarang. Terutama mengingat mayoritas nelayan di kawasan ini merupakan nelayan dengan kapal tradisional kecil.

Kini para nelayan mulai mempertimbangkan keselamatan untuk melaut dan mencari ikan di laut lepas. Guna mengantisipasi paceklik hasil tangkapan, sebagian nelayan hanya melakukan aktivitas tak lebih dari 4 mil dari garis pantai.

Kondisi ini mulai berlangsung sejak sepekan terakhir. “Hasilnya memang tak seberapa, tapi terpaksa kami lakukan dari pada sama sekali tak mendapatkan hasil laut,” tutur Madun (47), salah seorang nelayan.

Kondisi yang sama juga dirasakan nelayan di pantai Wedung, Kabupaten Demak. Menurut Masnani (40) nelayan Wedung juga mulai mencemaskan kondisi cuaca di perairan laut Jawa. Ia juga mengakui, tinggi gelombang yang mencapai dua meter sangat membahayakan keselamatan nelayan yang umumnya masih melaut dengan menggunakan kapal sopek berukuran kecil.

Sebagai antisipasi, sejumlah nelayan mulai berpikir untuk mengkap rajungan di lepas pantai, dari pada beresiko dengan keselamatan nelayan sendiri di laut lepas. Hanya beberapa nelayan yang masih berani melaut, tapi hasilnya juga tak maksimal karena biasanya mereka pulang lebih awal akibat cuaca buruk,”